EMBARGO MILITER INDONESIA: SEJARAH KELAM DUNIA MILITER INDONESIA
JAS
MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) adalah sebuah topik pidato
Presiden Pertama Indonesia yaitu Presiden Soekarno. Pesannya sangat jelas, agar
seluruh bangsa Indonesia tidak melupakan sejarahnya. Supaya kita belajar dari
sejarah tersebut, baik sejarah yang pahit maupun manis. Tulisan ini dibuat
untuk satu tujuan, yaitu untuk mengingatkan kembali tentang sejarah kelam
Negara ini agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.
Amerika serikat telah memiliki hubungan bilateral dengan
Indonesia dalam waktu yang lama dan seperti lazimnya dinamika hubungan antar
negara, hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia juga mengalami pasang surut. Salah satu yang masih dalam ingatan kita ketika Amerika
dan sekutunya menjatuhkan embargo militer terhadap Indonesia. Embargo ini berdasarkan
tuduhan Amerika dan sekutunya terhadap Indonesia yang menurut mereka telah melakukan
pelanggaran HAM di Timor-Timur tahun 1999. Embargo yang berlangsung dari
tahun 1999 hingga 2005 ini mengakibatkan
Indonesia tidak bisa membeli Alutsista (Alat Utama Sisten Senjata) beserta suku
cadangnya yang mengakibatkan peralatan militer Indonesia terutama alutsista
stategis seperti F-16, F-5, C-130 dan Hawk series mengalami penurunan kesiapan
tempur hingga di bawah 50%. Sangat menyedihkan apabila dibandingkan ketika
kampaye merebut Irian Barat dari Belanda. Ketika itu militer Indonesia sedang
dalam masa Jayanya.
Embargo
ini mengakibatkan banyak Alutsista Indonesia yang harus di ‘grounded’ sementara
karena ketiadaan suku cadang untuk mendukung operasinya. Contohnya sebagian
pesawat F-16 milik TNI AU harus rela di kanibalisasi untuk dijadikan suku
cadang (pare part) bagi F-16 lainnya. Dari 10 pesawat F-16 Indonesia kala itu, paling
tidak hanya 4 pesawat saja yang mampu terbang. Sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan.
Pesawat
Tempur lainnya seperti F-5 yang juga buatan Amerika juga mengalami nasib yang
sama. Kebanyakan pesawat ini di Grounded karena ketiadaan suku cadang. Demikian
juga dengan pesawat Hawk-109/209 buatan Inggris yang juga menjadi korban
embargo oleh Inggris yang merupakan sekutu utama Amerika. Padahal kondisi pesawatnya
masih cukup baik karena masih tergolong baru, namun biarpun demikian tidak
semua dari 40 pesawat ini mampu terbang kala itu. Pada bagian pesawat angkut
militer seperti pesawat C-130 Hercules yang merupakan tulang punggung pesawat angkut
militer Indonesia juga mengalami nasib sama. Lagi-lagi karena keterbatasan suku
cadang yang di embargo Amerika dan sekutunya, pesawat-pesawat pengangkut itupun
tidak bisa lagi digunakan secara optimal. Hal ini membuat pergerakan militer
Indonesia di wilayah yang sangat luas ini menjadi sangat terbatas. Melihat kondisi
ini benar-benar miris rasanya. Peralatan militer lainnya juga mengalami nasib
yang sama. Seperti kapal perang Indonesia yang ketika itu kebanyakan merupakan
buatan Amerika dan sekutunya. Bahkan tank-tank Scorpion yang dibeli Indonesia
dari Inggris juga mengalami nasib yang sama.
NEGARA LAIN SEAKAN ‘BERPESTA’
ATAS PENDERITAAN MILITER INDONESIA
Ketika
militer Indonesia dalam kondisi memprihatinkan, kita mampu membedakan mana
negara sahabat dan negara yang justru senang atas penderitaan Indonesia. Ketika
embargo masih berlaku, Inggris terang-terangan melarang Indonesia menggunakan
Tank Scorpion dan pesawat tempur Hawk-209/109 yang dibeli dari Inggris ketika
terjadi konflik di Aceh dan di daerah lainnya.
Selain
itu, ada tetangga selatan kita yang juga turut andil dalam lepasnya Timor-Timur
dari Indonesia, yaitu Australia. Negara ini juga beberapa kali melakukan pelanggaran
ke wilayah Indonesia, contohnya dengan mengirimkan jet tempur F-18 ke sekitar
Nusa Tenggara Timur. Kemudian Pesawat Tempur Hawk-109/209 TNI AU melakukan
intercept (penyergapan) terhadap pesawat tersebut, insiden ini terjadi pada 16
September 1999. Akhirnya pesawat itu pun pergi meninggalkan wilayah Indonesia.
Namun, malam harinya pesawat F-18 kembali lagi memasuki wilayah Indonesia dalam
jumlah yang jauh lebih banyak serta terbang rendah di atas Bandara El Tari Kota
Kupang. Pesawat TNI AU ketika itu tidak mampu melakukan apa-apa terhadap kejadian
ini selain mengumpat dalam hati atas pelecehan Negara tetangga tersebut.
Amerika
yang merupakan tokoh utama dibalik embargo militer Indonesia itu juga banyak melalukan
tindakan yang melecehkan kedaulatan Indonesia. Salah satu peristiwa yang paling
terkenal adalah peristiwa Bawean pada 3 Juli 2003 yaitu ketika 3 pesawat
F-18 Angkatan Laut Amerika terbang dari kapal Induk USS
Carl Vinson yang
sedang berlayar di wilayah Indonesia. Tidak hanya terbang, pesawat tersebut
juga melakukan maneuver-manuver yang mengganggu penerbangan sipil serta tidak
melaporkan kegiatannya kepada pihak berwenang Indonesia. TNI AU dengan segala keterbatasannya
akhirnya mengirimkan 2 pesawat F-16 B (yg merupakah pesawat latih tempur) untuk
mengidentifikasi dan mencegat ketiga pesawat tersebut. Dari segi teknologi dan
jumlah kedua pesawat F-16 Indonesia jelas kalah dari F-18 Amerika. Namun, dari
segi politik Indonesia tidak sepenuhnya kalah, karena setelah kejadian itu F-18
Amerika langsung membuka komunikasi dan melapor kepada menara pengawas di
Surabaya.
Selain itu, rupanya tetangga kita di Utara yaitu Malaysia juga n mengambil kesempatan dalam kesempitan di tengah keterpurukan militer Indonesia kala itu. Waktu itu, sengketa Sipadan dan Ligitan juga berlangsung pada tahun 2002 sewaktu embargo militer sedang berlangsung. Karena lemahnya militer Indonesia ketika itu mengurangi daya tawar Indonesia, Indonesia akhrinya kalah dari Malaysia dan harus merelakan Sipadan dan Ligitan menjadi milik Malaysia.
PELAJARAN DARI EMBARGO MASA LALU
(Pesawat Sukhoi Indonesia)
Embargo inilah yang
kemudian mendorong Indonesia berpaling ke produk-produk buatan Timur seperti
Rusia dan China, sebagai salah satu cara untuk meminimalkan ketergantungan akan
produk-produk Barat yang sarat dengan kepentingan politik negara penjual. Pada tahun
1996 Indonesia melakukan pemesanan sebanyak 12 pesawat Su-30KI. Indonesia mulai
tertarik dengan pesawat ini ketika melihat kehebatannya pada ajang Indonesia
Air Show bulan Juni 1996. Indonesia berharap dengan pembelian Sukhoi ini akan mampu
meningkatkan martabat Indonesia dimata Dunia, namun keadaan berbeda. Pembelian
pesawat ini tidak lepas dari tekanan AS dan sekutunya yang tidak ingin
indonesia memiliki pesawat tersebut. Hal ini cukup bisa
dipahami, karena pembelian Sukhoi akan mendekatkan Indonesia ke Rusia seperti
pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno yang membuat Indonesia begitu di
takuti Amerika dan sekutunya. Namun
pengaruh krisis
ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 turut memaksa Indonesia membatalkan
pembelian Sukhoi dari Rusia ini. Akan tetapi pada era pemerintahan Megawati Soekarno
Putri dan Susilo Bambang Yudoyono, pembembelian pesawat berrhasih terealisasi
meskipun banyak permasalahan untuk membeli pesawat tersebut.
Mengenang
kejadian menyakitkan di masa lalu bukan di maksudkan untuk membangkitkan
kebencian terhadap Negara-negara yang telah melakukan embargo ataupun Negara
yang memanfaatkan kesempatan itu untuk kepentingan nasionalnya. Tetapi sebagai
pelajaran dan mengingatkan kita agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama
berkali-kali. Pemerintah dan TNI saat ini sudah sedemikian bijak dalam
merancang strategi pembelian Alutsista
untuk menghindari atau miminimalkan peluang embargo terjadi lagi. Saat ini
strategi militer Indonesia terutama dalam pengadaan Alutsista adalah dengan sistem
Gado-gado atau mencampur alutsista buatan Barat dengan Rusia, hal ini bertujuan
untuk mengantisipasi apabila embargo kembali terjadi. Apabila kita diembargo
oleh Barat maka masih ada alutsista Rusia dan apabila terjadi sebaliknya maka
masih ada alutsista buatan Barat serta dengan mengembangkan alutsista dalam
negeri untuk mendukung kemandirian alutsista. Pemerintah juga sebaiknya membeli peralatan
militer dari Negara yang member jaminan tidak akan melakukan embargo ke
Indonesia serta menberi syarat Alih Teknologi dan terus mendukung industri
militer dalam negeri untuk mewujudkan kemandirian alutsista karena kemandirian
alutsista biarpun sangat sulit namun menjadi cara yang paling ampuh untuk
mengatasi embargo.
(Beberapa Produk Alutsista Indonesia)
Sumber:
http://garudamiliter.blogspot.com/2012/04/sukhoi-indonesia.html
http://garudamiliter.blogspot.com/2012/04/insiden-bawean.html
https://www.facebook.com/22cintasejarah/posts/embargo-militer-masa-suram-alutsistamiliter-indonesiajas-merah-jangan-sekali-kal/147761408756032/
https://jambi.tribunnews.com/2019/02/07/tni-au-nyaris-rontokkan-2-pesawat-f-18-hornet-australia-di-lanhit-dili-dikenal-insiden-dogfight.
https://www.kadena.af.mil/News/Article-Display/Article/1390267/us-air-force-completes-delivery-of-24-f-16s-to-indonesia/
https://nusantaranews.co/banyak-negara-lirik-produk-produk-alutsista-indonesia/



Komentar
Posting Komentar